Friday, August 14, 2020

TAP KASUS 13

 

Kelompok 6:

1.        Ika Kusriani                               (857663639)

2.        Lailatul Mutmainnah                 (857663352)

3.        Riza Nazilatul Fathiyah             (857663384)

 

KASUS 13

 

Ketika duduk di kelas 5 SD, pelajaran Matematika merupakan pelajaran yang paling dibenci oleh Rinto. Namun, setelah duduk di kelas 6 dan diajar oleh Pak Bondan, ia mulai menyukai Matematika. Pak Bondan selalu mengajak para siswa untuk mengaitkan bentuk-bentuk bangun ruang yang sedang dipelajari dengan benda-benda yang ada di sekitas siswa. Misalnya ketika membahas kubus, kerucut dan silinder, para siswa diminta membawa benda-benda seperti kotak sepatu, kaleng susu, stoples dan caping. Selain benda-benda tersebut, Pak Bondan juga menyediakan tiruan benda tersebut dari kertas. Para siswa dibimbing menemukan rumus untuk menghitung volume benda tersebut. Prestasi Rinto pun meningkat.

Namun dalam pelajaran lain, yaitu Bahasa Indonesia, yang diajar oleh Ibu Nani (kebetulan pembelajaran menerapkan sistem guru bidang studi, khusus untuk kelas 6), Rinto merasa bosan. Ia sering mengantuk, lebih-lebih ketika para siswa diminta membaca bergilir. Supaya tidak dimarahi, Rinto mencoba menghitung baris mana yang akan menjadi bagiannya dan menandainya. Agar tidak mengantuk, Rinto menaruh komik di atas buku pelajaran dan membaca komik itu dalam hati. Ketika giliran tiba, dengan tangkas Rinto membaca baris yang telah ditandai. Bu Nina yang duduk di depan tidak pernah tahu bila Rinto tidak pernah mendengar bacaan yang dibaca temannya.

 

Pertanyaan:

1.         Simpulkan model pembelajaran yang dilakukan oleh Pak Bondan.

2.         Setujukah Anda dengan model pembelajaran yang dilakukan oleh Bu Nani?

3.         Jika Anda yang menjadi guru, bagaimana cara Anda melakukan pembelajaran matematika menggantikan Pak Bondan?

4.         Jika Anda yang menjadi guru, bagaimana cara Anda melakukan pembelajaran Bahasa Indonesia menggantikan Bu Nani?

 

Jawaban:

1.        Pembelajaran dengan media benda konkret merupakan suatu alat peraga yang menggunakan benda-benda tiruan yang memiliki bentuk sesuai benda dengan aslinya. Kesesuaian yang dimaksud bukanlah selalu sama persis dengan aslinya, tetapi lebih ditekankan pada kesesuaian elemen-elemen yang berperan dalam memberikan bentuk benda. Pembelajaran dengan media benda konkret dapat membantu siswa berfikir secara konkret menuju pada tahap berfikir abstrak sehingga dapat mengaktifkan respon siswa dan memberikan stimulus dalam proses pembelajaran, yang pada akhirnya dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam mempelajari bentuk-bentuk bangun ruang. Pak bondan menggunakan media pembelajaran alat peraga benda konkret yang dapat ditemukan dengan mudah di sekitar siswa baik berupa model (yang dibuat dari kertas) maupun benda nyata (yang diminta siswa untuk membawa dari rumah) sehingga pembelajaran menjadi lebih bersifat konkret (tidak abstrak). Pembelajaran yang tidak abstrak (bersifat konkret) membuat pelajaran lebih mudah dipahami oleh siswa.

Pak Bondan menggunakan benda-benda yang akrab dengan keseharian siswa sehingga pembelajaran menjadi lebih kontekstual, seperti kotak sepatu, kaleng susu, stoples, dan caping (topi petani). Pembelajaran yang kontekstual akan membuat siswa menjadi lebih merasa terlibat, dan akan cenderung memunculkan rasa ingin berpartisipasi dalam proses pembelajaran.

Pak Bondan menerapkan model penemuan terbimbing, yaitu pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa dibimbing untuk mencari, meneliti, dan menemukan rumus untuk menghitung volume benda, bukan langsung diberi tahu. Hal ini, akan membuat pembelajaran lebih menarik, menggugah motivasi belajar, dan efektif.

 

2.        Kurang setuju, dengan alasan:

a.    Bu Nani selalu menggunakan strategi mengajar yang sama, sehingga Rinto dan siswa yang lain merasa bosan dan mengantuk.

b.    Bu Nani sering menggunakan strategi membaca bergilir sehingga Rinto sudah bisa menebak bagian bacaan atau kalimat yang akan menjadi tugasnya untuk dibaca.

c.    Bu Nani tidak pernah berkeliling kelas untuk memperhatikan kegiatan setiap siswanya, bahkan tidak mengetahui jika Rinto menaruh komik di atas buku pelajaran dan membaca komik itu dalam hati.

 

 

3.        Cara melakukan pembelajaran matematika menggantikan Pak Bondan:

Dalam materi bentuk-bentuk bangun ruang, saya menggunakan media video pembelajaran. Pemanfaatan media video pembelajaran dalam materi bangun ruang dapat membangkitkan minat belajar, motivasi belajar, dan mampu memberikan pengaruh secara psikologis terhadap siswa. Selain itu, dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap pembelajaran materi bangun ruang. Alat dan bahan yang perlu disiapkan adalah topi ulang tahun bekas yang belum dibentuk seperti kerucut, kardus bekas yang belum dibentuk seperti kubus atau balok, LCD, dan laptop. Siswa setiap kelompok yang terdiri dari 5 orang sebelumnya diminta membawa topi ulang tahun bekas yang belum dibentuk kerucut dan kardus snack bekas yang belum dibentuk kubus atau balok. Saya akan menampilkan video berupa tutorial cara membuat kubus, balok, dan kerucut. Setelah video ditampilkan, siswa bekerja secara berkelompok praktik membuat kerucut, balok, dan kubus dengan kardus bekas yang telah disiapkan oleh guru. Dengan menggunakan video tutorial bertujuan akan menarik siswa untuk termotivasi mengikuti pembelajaran. Siswa bekerja sendiri secara berkelompok menjadikan pembelajaran lebih bermakna karena siswa melakukan sendiri dan menggunakan benda konkret yang mudah ditemukan di sekitar siswa.

 

4.        Cara melakukan pembelajaran Bahasa Indonesia menggantikan Bu Nani

a.    Saya akan menggunakan strategi pembelajaran yang variatif, yang menarik bagi siswa agar siswa tidak merasa bosan dan tertarik dalam mengikuti pembelajaran. Saya akan mengembangkan model pembelajaran membaca terbimbing (guided reading) dengan teknik Directed Reading Thinking Activities (DRTA). Pengembangan model pembelajaran dengan teknik DRTA ini dirancang untuk membimbing sekaligus mengaktifkan siswa ketika berinteraksi dengan teks yang dipahami secara kritis berdasarkan pendekatan  yang mengarah pada kegiatan prabaca, saat baca, dan pascabaca.

Kegiatan tahap prabaca dilakukan guru dengan cara membimbing siswa mencurahkan sejumlah prediksi tentang isi bacaan dan isi secara kritis terhadap isi paragraf sesuai dengan tema pembelajaran. Guru membimbing siswa dengan cara memprediksi isi dengan cara menggunakan pertanyaan terbuka sehingga guru memperoleh berbagai jawaban terbuka yang berasal dan siswa. Kegiatan tahap baca dilakukan guru dengan cara membantu siswa memahami bacaan sambil memikirkan prediksi yang dikemukakan mereka sewaktu tahap prabaca. Tahap pasca-baca dilakukan guru dengan cara membimbing siswa merevisi/ menguji prediksi awal yang sesuai dengan informasi yang didapat dalam bacaan secara kritis.  

Dalam teknik DRTA ini, pembelajaran dirancang untuk meminta siswa memprediksi isi bacaan dan isi paragraf sesuai dengan pengalaman yang dimiliki siswa, memikirkan prediksi saat kegiatan membaca, dan merevisi/ menguji prediksi setelah kegiatan membaca. Penekanan pelaksanaan pembelajaran membaca terbimbing ini bukan pada cara membaca itu sendiri, tetapi lebih pada membaca pemahaman secara kritis. Pelaksanaan kegiatan ini, misalnya terlihat ketika guru melemparkan pertanyaan kepada siswa. Harapan dan jawaban yang diperoleh guru adalah siswa menjawab secara kritis. Dalam hal ini, guru hanya berperan sebagai pengamat dan fasilitator dengan mengharapkan siswa SD dapat mengembangkan kemampuan daya pikirnya melalui penalaran secara kritis.

b.    Kadang-kadang saya menerapkan kegiatan pembelajaran atau memberikan tugas-tugas yang sedikit menantang karena Rinto merupakan salah satu siswa yang cerdas. Misalnya dengan memberikan sebuah kasus, siswa diminta untuk memcahkan masalah tersebut. Kegiatan tersebut dapat dilakukan dengan membagi kelompok diskusi sehingga anak yang memiliki kekurangan tidak merasa keberatan dengan tugas tersebut.

c.    Saya akan berkeliling kelas untuk memperhatikan kegiatan setiap siswa untuk menjaga agar semua siswa tetap aktif belajar, bukan  melakukan kegiatan yang tidak ada kaitannya dengan pembelajaran yang sedang dilaksanakan.

TAP KASUS 15

 

NAMA KELOMPOK

PENY NOVITASARI          857663227

SITI NUR FAIDAH             857663961

SUGIYARTO                       857663567

KASUS 15

 

 Ketika duduk di kelas 5, pelajaran IPA merupakan pelajaran yang paling dibenci oleh Dony karena dia harus menghapal berbagai hal setiap menjelang ulangan. Namun, setelah duduk di kelas 6 dan diajar oleh Pak Badri, ia mulai menyukai IPA. Pak Badri selalu mengajak anak untuk mengamati apa yang sedang dipelajari, bahkan anak-anak dibimbing untuk melakukan percobaan sederhana. Observasi atau percobaan kadang-kadang dilakukan secara individual dan kadang-kadang oleh kelompok. Dony merasa tanpa harus menghapal ia selalu jngat apa yang diamati atau hasil percobaan yang dilakukannya karena setiap akhir kegiatan kelompok atau individual anak-anak diminta membuat laporan singkat untuk dibahas dalam kelas. Lebih-lebih lagi setiap akhir pembahasan hasil observasi atau percobaan Pak Badri selalu meminta anak-anak mengaitkan hal-hal yang sedang dibahas dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, setelah melakukan percobaan untuk menemukan titik didih air, anak-anak diminta memikirkan cara memasak air yang paling tepat agar cepat mendidih. Prestasi belajar Donypun meningkat, ia sering dipuji oleh Pak Badri karena menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu dan benar.

Namun dalam pelajaran lain, yaitu Bahasa Indonesia yang diajar oleh Ibu Rini (kebetulan SD tersebut menerapkan system guru bidang studi khusus untuk kelas 6), Dony kembali merasa bosan, ia sering mearasa mengantuk, lebih-lebih ketika anak-anak diminta membaca bersuara secara bergilir, menjawab pertanyaan yang ada di buku paket secara bergilir pula. Dony kadang-kadang bosan menunggu giirannya. Setelah mendapat giliran menjawab pertanyaan, Dony tidak peduli lagi dengan wacana yang sedang dibaca atau pertanyaan dalam buku teks tersebut. Ia yakin tideak akan mendapat giliran lagi. Supaya tidak dimarahi guru dan tidak mengantuk, Dony yang memang gemar membaca, mengeluarkan komik yang dibawanya dan menyelipkannya di dalam buku Bahasa Indonesia. Ia membaca komik tersebut dalam hati. Bu Rini yang duduk di depat tidak pernah tahu kalau Dony tidak menyimak pelajaran.

 

 

Pertanyaan:

1.    Identifikasi tiga hal yang membuat Dony menyukai IPA dan berikan alasan masing-masing mengapa ketiga hal tersebut dianggap merupakan faktor yang membuat Dony menyukai IPA.

2.    Jika Anda menjadi Ibu Rini, cobalah rancang kegaitan pembelajaran Bahasa Indonesia yang mampu membuat anak-anak yang gemar membaca seperti Dony mengembangkan potensinya secara optimal. Tuliskan dua keunggulan rancangan tersebut, dilihat dari hakikat pelajaran Bahasa Indonesia di SD dan pendekatan belajar aktif.

 

ANALISIS KASUS 15

1.     3 faktor yang menyebabkan Dony menyukai IPA

a.       Cara mengajar pak Badri yang bervariasi : Pak Badri dalam menyampaikan materi tidak hanya dengan satu metode saja. Pak Badri menggunakan metode pembelajaran yang menarik bagi siswa, misalnya metode observasi dan percobaan.

b.      Pembelajaran yang dilakukan membuat siswa lebih berperan aktif terutama bagi Dony. Dengan melakukan percobaan sederhana tentang materi pembelajaran Dony dapat menemukan hal-hal baru yang belum diketahuinya. Hal tersebut akan lebih berkesan dan mudah diingat oleh Dony daripada dia harus menghafal.

c.       Pak Badri dalam membahas materi selalu dikaitkan dengan kehidupan yang ada di lingkungan sekitar hal tersebut membuat siswa terutama Dony sangat tertarik sehingga tidak merasa bosan dalam mengikuti pembelajaran.

 

2.        Rancangan Kegiatan pembelajaran Bahasa Indonesia yang mampu membuat anak atau siswa gemar membaca, jika saya menjadi bu Rini,

Kegiatan awal:

a.         Guru mengawali pembelajaran dengan salam

b.        Guru mengecek kehadiran siswa

c.         Guru melakukan apersepsi dengan mengajukan pertanyaan kepada siswa

d.        Guru memberikan motivasi kepada siswa

e.         Guru menyampaikan tujuan pembelajaran

 

 

 

Kegiatan inti:

a.       Guru mengajak siswa ke perpustakaan dan menyuruh siswa untuk memilih buku bacaan atau cerita yang mereka sukai. Hal tersebut akan membuat mereka lebih tertarik dan aktif.

b.      Setelah kegitan membaca selesai, Guru membentuk beberapa kelompok kecil. Dalam kelompok kecil tersebut, Guru meminta siswa secara bergilir untuk menceritakan kembali bacaan yang telah mereka baca.

c.       Guru memantau kegiatan siswa

Kegiatan akhir:

a.         Guru melakukan refleksi, dengan melakukan tanya jawab singkat tentang kegiatan pembelajaran yang telah berlangsung.

b.        Guru bersama siswa menyimpulkan hasil pembelajaran yang telah dilakukan.

c.         Guru menutup pembelajaran dengan salam.

 

Keunggulan rancangan pembelajaran tersebut adalah :

1)      Kegiatan pembelajaran lebih menarik, karena siswa tidak hanya belajar didalam kelas saja.

2)      Siswa dapat berperan lebih aktif, karena mereka dapat menentukan sendiri buku apa yang akan mereka baca. Mereka juga dapat menumbuhkan rasa percaya diri dengan menceritakn kembali di depan teman-temanya.

TAP KASUS 10

MATA KULIAH TUGAS AKHIR PROGRAM PGSD-UT SEMETER III BI                             ...