1. Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa.
2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
4. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”
——————-
Surat ini terdiri atas 4 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah,
diturunkan sesudah sesudah surat An Naas. Dinamakan Al Ikhlas karena
surat ini sepenuhnya menegaskan kemurnian keesaan Allah s.w.t.
——————-
Pokok-pokok isinya:
——————-
Penegasan tentang kemurnian keesaan Allah s.w.t. dan menolak segala
macam kemusyrikan dan menerangkan bahwa tidak ada sesuatu yang
menyamai-Nya.
——————-
Surat Al Ikhlash ini menegaskan kemurnian keesaan Allah s.w.t.
Keutamaan:
Terdapat banyak hadist yang menyebut keutamaan surat
ini, bahwa membacanya sama seperti pahala membaca sepertiga isi
al-Qur’an karena setiap apa yang dikandung dalamnya merupakan penjelasan
isi surat al-Ikhlas. Sebab lain karena mengandung tiga dasar-dasar umum
syariat; yakni tauhid, ketetapan larangan-larangan (hudud) dan hukum-hukum, serta penjelasan hal amal perbuatan yang
menjamin kemurnian tauhid. Hadist riwayat Bukhori, Abu Daud dan Nasa’i
berasal dari Abu Said al-Khudhri mengatakan, bahwa ada seseorang
mendengar orang lain membaca Qul huwa Allahu ahad berulang
kali, lalu ketika datang waktu pagi orang itu datang menceritakannya
kepada Nabi SAW. seakan meremehkan bacaan itu, maka bersabda Nabi SAW.:
”Demi Allah, yang jiwaku berada dalam kuasaNya. Sesungguhnya bacaan
surat al-Ikhlas itu sama dengan sepertiga isi Al-Qur’an”.
Hadist lain diriwayatkan Imam Bukhori dari Abu Said
RA berkata, bahwa Rasul SAW bertanya kepada para Sahabat: ”Tidak
mampukah kalian membaca isi Al-Qur’an dalam semalam?” lalu sahabat
merasa keberatan dengan mengatakan siapa yang mampu melakukannya ya
Rasulullah, maka Nabi menunjukkan bahwa Allahu Al-wahid Ash-shomad merupakan sepertiga al-Qur’an.
Imam Muslim dan Tirmidzi meriwayatkan dari Abu
Hurairah RA berkata, bahwa Rasul SAW bersabda: ”Berkumpullah, karena aku
akan membacakan kepada kalian sepertiga Al-Qur’an” maka berkumpul
sebagian sahabat yang mau, kemudian beliau hadir dan membacakan Qul huwa Allahu ahad lalu
masuk lagi yang menyebabkan para sahabat saling bertanya sendiri. Maka
Rasulullah SAW berkata: ”Apa yang aku bacakan kepada kalian itu
merupakan sepertiga al-Qur’an, dan aku memahami kebenaran berita ini
berasal dari wahyu”. Lalu Nabi SAW keluar dan mengatakannya lagi: ”Aku
akan membaca untuk kalian sepertiga al-Qur’an, ketahuilah bahwa surat
al-Ikhlas mengimbangi kandungan sepertiganya”.
Imam Ahmad, Tirmidzi dan Nasa’i meriwayatkan hadist
dari Abu Ayyub al-Anshori bahwa Nabi SAW. bersabda: ”Tidak mampukah
kalian membaca isi Al-Qur’an dalam semalam? maka siapa yang membaca Qul huwa Allahu ahad, Allah ash-shomad di suatu malam, maka dia di malam itu telah membaca sepertiga al-Qur’an”.
HUBUNGAN SURAT AL IKHLASH DENGAN SURAT AL FALAQ
Surat Al Ikhlash menegaskan kemurnian Allah s.w.t. sedang surat Al
Falaq memerintahkan agar semata-mata kepada-Nya-lah orang memohon
perlindungan dari segala macam kejahatan.
——————-
TAFSIR:
——————-
Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa.(QS. 112:1)
——————-
Dahhak meriwayatkan bahwa orang-orang musyrik mengutus kepada Nabi
Muhammad SAW Amir bin Tufail, menyampaikan amanah mereka kepada Nabi, ia
berkata: “Engkau telah memecah belahkan keutuhan kami, memaki-maki
“tuhan” kami, berubah agama nenek moyangmu. Jika engkau miskin dan mau
kaya kami berikan engkau harta. Jika engkau gila kami obati. Jika engkau
ingin wanita cantik akan kami kawinkan engkau dengannya”. Nabi
menjawab:
“Aku tidak miskin, tidak gila, tidak ingin kepada wanita. Aku adalah
Rasul Allah, mengajak kamu meninggalkan penyembahan berhala dan mulai
menyembah Allah Yang Maha Esa”, kemudian mereka mengutus utusannya yang
kedua kalinya dan bertanya kepada Rasulullah. Terangkanlah kepada kami
macam Tuhan yang engkau sembeh itu. Apakah Dia dari emas atau perak?”,
lalu Allah menurunkan surah ini.
(HR. Dahhak)
Surah ini meliputi dasar yang paling penting dari risalah Nabi SAW.
iaitu mentauhidkan Allah dan menyucikan-Nya serta meletakkan pedoman
umum dalam beramal sambil menerangkan amal perbuatan yang baik dan yang
jahat, menyatakan keadaan manusia sesudah mati mulai dari sejak
berbangkit sampai dengan menerima balasannya berupa pahala atau dosa.
Telah diriwayatkan dalam hadis, “Bahwa surah ini sebanding dengan
sepertiga Alquran,” karena barang siapa menyelami artinya dengan
bertafakur yang mendalam, niscaya jelaslah kepadanya bahwa semua
penjelasan dan keterangan yang terdapat dalam Islam tentang tauhid dan
kesucian Allah dari segala macam kekurangan merupakan perincian dari isi
surah ini.
Pada ayat ini Allah menyuruh Nabi-Nya menjawab pertanyaan orang-orang
yang menanyakan tentang sifat Tuhannya, bahwa Dia adalah Allah Yang Maha
Esa, tidak tersusun dan tidak berbilang, karena berbilang dalam susunan
zat berarti bahwa bagian kumpulan itu memerlukan bagian yang lain,
sedang Allah sama sekali tidak memerlukan sesuatu apapun. Tegasnya
keesaan Allah itu meliputi tiga hal: Dia Maha Esa pada zat-Nya, Maha Esa
pada sifat-Nya dan Maha Esa pada afal-Nya.
Maha Esa pada zat-Nya berarti zat-Nya tidak tersusun dari beberapa zat
atau bagian. Maha Esa pada sifat-Nya berarti tidak ada satu sifat
makhlukpun yang menyamai-Nya dan Maha Esa pada af’al-Nya berarti hanya
Dialah yang membuat semua perbuatan sesuai dengan firman-Nya.
Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia.
(Q.S. Yasin: 82).
——————-
Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.(QS. 112:2)
Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan,(QS. 112:3)
Dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa Maha Suci Dia dari mempunyai anak.
Ayat ini juga menentang dakwaan orang-orang musyrik Arab yang
mengatakan bahwa malaikat-malaikat adalah anak-anak perempuan Allah dan
dakwaan orang Nasrani bahwa Isa anak laki-laki Allah.
Dalam ayat lain yang sama artinya Allah berfirman:
Tanyakanlah (ya Muhammad) kepada mereka (orang-orang kafir Mekah)
“Apakah untuk Tuhanmu anak-anak perempuan dan untuk mereka anak-anak
laki-laki, atau apakah Kami menciptakan malaikat-malaikat berupa
perempuan dan mereka menyaksikan (nya)? Ketahuilah bahwa sesungguhnya
mereka dengan kebohongannya benar-benar mengatakan: “Allah beranak”. Dan
sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta.
(Q.S. As Saffat: 149-152).
Dan Dia tidak beranak, tidak pula diperanakkan.
Dengan demikian Dia tidak sama dengan makhluk lainnya, Dia berada tidak
didahului oleh tidak ada. Maha suci Allah dari apa yang tersebut.
Ibnu ‘Abbas berkata: “Dia tidak beranak sebagaimana Maryam melahirkan
Isa A.S. dan tidak pula diperanakkan. Ini adalah bantahan terhadap
orang-orang Nasrani yang mengatakan Isa Al Masih adalah anak Allah dan
bantahan terhadap orang-orang Yahudi yang mengatakan Uzair adalah anak
Allah.
by: Mas_Ekolover
code: 02/001/2016